Sabtu, 19 November 2011

GERAKAN PENGEMBANGAN TANAMAN DURIAN BIDO

Untuk pengembangan  dan pelestarian Durian Bido Wonosalam, Bapak SENEN, S. Sos. selaku Camat Kecamatan Wonosalam menerbitkan SK Camat nomor : 188/1/415.73/2011 tentang pengembangan dan Pelestarian Durian Bido dimana semua program yang berhubungan dengan bibit Durian yang akan masuk di Kec.Wonosalam  harus berasal dari pembibitan Durian yang ada di Wonosalam, selanjutnya langsung di tindak lanjuti oleh Petugas Penyuluh Pertanian Kecamatan dengan membina petani / kelompoktani dalam pengadaan pembibitan tanaman durian.Pembibitan ini tersebar di 7 desa yang ada di Kec.Wonosalam dimana nantinya untuk penyebarannya akan  di ratakan di semua desa yang ada di Kecamatan Wonosalam.Tidak kalah pentingnya di tingkat desa yang mendapat Program Rumah Hijau juga mengembangkan Durian Bido, Desa yang mendapat program tersebut yaitu desa Sambirejo dan Carangwulung.(PPL Kec.Wnslm)
LOKASI PERKEBUNAN TANAMAN SALAK DI KECAMATAN WONOSALAM

Sesuai dengan program Pemerintah Kabupaten Jombang, Dimana Kec.Wonosalam merupakan bagian kawasan Agropolitan. Kec.Wonosalam mulai berbenah untuk menuju kawasan Agropolitan khususnya di bidang Pertanian.Selain sudah dikenal dengan Durian Bidonya yang sudah diakui secara nasional dengan terbitnya SK Mentan juga mempunyai unggulan lain yaitu Tanaman Salak.Dimana tanaman salak ini tersebar di 9 desa yang ada di kec.Wonosalam.Kualitasnya sudah tidak diragukan lagi karena beberapa kali dari Dinas Pertanian Kabupaten Jombang menampilkan buah salah dari Wonosalam ini untuk mengikuti pameran dalam acara Krida Pertanian.Penyebaran kebun salak ini yang terbanyak ada di 3 desa yaitu desa Galengdowo,Wonosalam dan Carangwulung.Bila pengunjung ingin ke Wonosalam dapat membawa oleh-oleh buah salak ini dan dapat membeli  dan memetik langsung ke kebunnya. (PPL Kec.Wnslm)

Sabtu, 23 Juli 2011

TEKNIK PERBANYAKAN SALAK PONDOH DENGAN MEMANFAATKAN BOTOL INFUSE DI KECAMATAN WONOSALAM


Pencangkokkan salak pondoh secara vegetatif dengan memanfaatkan botol infuse yang dilakukan petani salak di Kecamatan Wonosalam
Tahapan pencangkokan :
1. Tanaman salak dibersihkan terlebih dahulu dari beberapa pelepah yang tumbuh disekitar tunas anakan yang akan di cangkok, dan beberapa akar yang sudah mengering, ini semua untuk mempermudah pada saat mencongkok, merawat, dan pemeliharaan cangkokan.
2. Botol infuse di potong menjadi dua bagian dengan sisi samping bawah dilubangi sebesar batang anakan yang akan di cangkok
3. Selanjutnya di lakukan pemasangan botol infuse pada anakan dengan memasukan batang anakan lewat lubang botol infuse yang telah dilubangi. Posisi bagian batang yang di cangkok berada disebelah dalam botol infuse, sehingga pangkal batang anakan akan terbeman didalam botol infuse
4. Pemberian media tanah (bokashi+ tanah)) pada botol infuse dan dipadatkan dengan mengunakan kayu atau tangan sampai terisi penuh.
5. Sampai disini, selesailah sudah pelaksanakan pencangkokan salak pondoh dan selanjutnya , sambil menunggu cangkokan jadi kita lakukan perawatan antara lain penyiraman untuk menjaga kelembaban dan menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam melakukan pencangkokan, yang harus diperhatikan yaitu jumlah anakan yang akan di cangkok. Maksimal jumlah cangkokan sekitar 2-3 anakan, karena banyak anakan yang dicangkok akan mempengaruhi produksi buah yang dihasilkan oleh pohon induk. Musim, kelembaban, umur dan ketinggian anakan dari permukaan tanah mempengaruhi cepat tidaknya cangkokan jadi. Pencangkokan tidak saja di lakukan pada salak betina tetapi juga salak jantan.(PPL Kec.Wnslm)

Jumat, 22 Juli 2011

PERBANYAKAN SALAK PONDOH SECARA VEGETATIF DI KECAMATAN WONOSALAM


Perbanyakan salak secara vegetatif yang di lakukan petani salak di Desa Wonosalam dengan memanfaat bahan bekas infuse. Yang harus di perhatikan dalam mencangkok :
► Ketinggian anakan dari permukaan tanah
► Musim penghujan atau musim kemarau
► Kelembaban harus dijaga sekitar 60 %
► Jumlah anakan yang dicangkok maksimal 2-3 anakan
► Umur anakan sekitar 1-2 bulan atau berdaun 2-3 helai ( 50cm )
Cangkokan salak pondoh dapat dikatakan berhasil, apabila sudah tampak akar-akarnya mencuat dan memembus keluar dari bumbung infuse, dan ujung akar berwarna hitam. Pada umumnya umur cangkokan jadi sekitar 5-6 bulan sejak di cangkok, setelah itu cangkokan di pisahkan dari induknya. Dengan hati-hati jangan sampai akarnya putus, sebab bila akarnya putus akan menghambat pertumbuhan cangkokan itu sendiri.( PPL Kec.Wnslm )

Minggu, 10 Juli 2011

PENINGKATAN KUALITAS DAN KUANTITAS TANAMAN DURIAN DI KECAMATAN WONOSALAM DENGAN TEKNOLOGI TOP WORKING



Tanaman durian akan mengalami penurunan kuantitas dan kualitas seiring dengan berjalannya waktu. Tanaman durian yang kualitas dan kuantitas produksinya kurang bagus dapat diperbaiki lagi tanpa adanya perombakan tanaman durian yang telah ada. Caranya adalah dengan teknologi top working.
Top Working merupakan usaha perbaikan mutu tanaman dengan cara memperbaiki tanaman yang sudah ada. Tahapan peningkatan kualitas tanaman durian dengan sistem top working adalah sebagai berikut:
1. Tanaman induk dipotong secara manual dengan ketinggian dari tanah sekitar 1 m (lebih baik pada musim hujan)
2. Olesi permukaan dengan meni atau ditutup plastik/pelepah pisang
3. Biarkan sampai tumbuh tunas (2-3 bulan)
4. Pemilihan calon batang (Tunas air) yang akan di sambungkan (varietas BIDO) dan di hilangkan/dipotong daunnya.
5. Potong Tunas yang tumbuh sekitar 20cm degan Pisau/silet yang tajam
6. Belah tengah batang tunas yang telah dipotong tepat dibagian tengah
7. Calon batang yang akan disambung(Okulasi) disayat sehingga membentuk seperti huruf V.
8. Masukkan calon batang ke dalam bagian tunas yang telah dibelah, ikat kuat dengan tali Plastik (bungkus es lilin) yang di belah menjadi 2 bagian.
9. Tutup calon batang dengan Plastik kurang lebih 2 Minggu kemudian buka.
10. Untuk penyambungan diharapkan pada kondisi tidak ada hujan.
Beberapa keuntungan yang diperoreh dengan perbaikan tanaman sistem top working adalah:
1. Dapat dilakukan pada semua umur tanaman
2. Tanaman berbuah lebih cepat
3. Nilai ekonomis meningkat
4. Perakaran lebih kuat
5. Jenis buah sesuai keinginan
6. Satu pohon dapat berbuah lebih dari satu jenis
Selain memiliki beberapa keuntungan ternyata top working juga mempunyai beberapa kelemahan diantaranya:
1. Pertumbuhan tanaman tertunda
2. Bagi tanaman yang sudah berbuah dapat menunda waktu berbuah
Tabel perbandingan tanaman durian antara teknologi top working dan tanpa top working
FAKTOR TANPA TOP WORKING DENGAN TOP WORKING
Umur Berbuah Lama (± 8 tahun) Cepat (± 3 tahun)
Kualitas buah Rasa kurang enak dan tidak stabil, bentuk kurang baik Rasa enak dan bentuk menarik (stabil)
Bentuk pohon Tinggi (± 15 m) tajuk lebar Lebih pendek (± 10 m)
Pemeliharaan Sulit pemeliharaannya Lebih mudah pemeliharaannya
Demikian sekilas tentang cara meningkatkan kualitas tanaman durian dengan cara sistem top working di Kecamatan Wonosalam, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.(PPL Kec.Wnslm)

Selasa, 28 Juni 2011

KEGIATAN SL-PTT PADI KECAMATAN WONOSALAM


Sekolah Lapang – Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) merupakan bentuk sekolah yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilakukan di lapangan, yang dilaksanakan di lahan petani peserta PTT dalam upaya peningkatan produksi padi nasional.
Pelaksanaan SL-PTT tanaman padi Kecamatan Wonosalam mencakup 12 unit tersebar di 6 Desa dari 9 Desa yang ada di Kecamatan Wonosalam.
Tujuan dari SLPTT sendiri adalah sebagai Sarana untuk Petani dalam Meningkatkan Produksi Hasil pertanian, dan Pemanfaatan Bahan Organik / Nabati dalam pengendalian atau Budidaya yang selama ini Jarang dilakukan petani pada umumnya. Petani Lebih menyukai bahan kimia yang bersifat Instan yang dapat berakibat terhadap kerusakan Lingkungan.
Dengan adanya SLPTT diharapkan petani dapat menyadari dan memanfaatkan bahan – bahan yang ada disekitar mereka yang dapat berguna untuk budidaya Tanaman Mereka dan Menjaga ekosisitem yang ada.(PPL Kec.Wnslm)

Rabu, 09 Maret 2011

CALON BINTANG BENDERA SOBEK KABUPATEN JOMBANG


DUKUNG TEMAN KITA DI AUDISI CALON BINTANG BENDERA SOBEK DENGAN CARA MENGETIK

SOBEK (spasi) CIPTANUGRAHA

KIRIM KE 9333

SANG PENYULUH SIAP MENGADU BAKAT. .

Minggu, 08 Agustus 2010

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN TENTANG DURIAN BIDO WONOSALAM

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR: 340/Kpts/SR.120/5/2006
TENTANG
PELEPASAN DURIAN BIDO WONOSALAM
SEBAGAI VARIETAS UNGGUL
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERTANIAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan produksi
durian, varietas unggul mempunyai peranan
penting;
b. bahwa durian Bido Wonosalam memiliki
keunggulan daging buah cukup tebal dan
berwarna kuning dengan rasa manis dan
pulen, waktu panen tiga kali dalam satu
tahun, beradaptasi dengan baik di dataran
rendah sampai tinggi;
c. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas,
dipandang perlu untuk melepas durian Bido
Wonosalam;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995
tentang Perbenihan Tanaman (Lembaran
Negara Tahun 1995 Nomor 85, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3616);
3. Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 1971
tentang Badan Benih Nasional ;
4. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun
2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia
Bersatu;
5. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005
tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Kementrian
Negara Republik Indonesia;
6. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005
tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I
Kementrian Negara Republik Indonesia;
7. Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor
461/Kpts/Org/11/1971 tentang Kelengkapan
Susunan Organisasi, Perincian Tugas dan
Tata Kerja Badan Benih Nasional;
8. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 902/-
Kpts/KP.240/12/1996 jo Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 737/Kpts/TP.240/9/1998
tentang Pengujian, Penilaian dan Pelepasan
Varietas;
9. Keputusan Menteri Pertanian Nomor
01/Kpts/OT.210/2/2001 jis Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 354.1/Kpts/OT.210/6/2001,
Keputusan Menteri Pertanian Nomor
354/Kpts/OT.210/6/2003 dan Keputusan
Keputusan Menteri Pertanian Nomor
257/Kpts/OT.140/4/2004 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Departemen Pertanian;
10. Keputusan Menteri Pertanian Nomor
99/Kpts/OT.210/2/2001 jis Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 392/Kpts/OT.210/7/2001,
Keputusan Menteri Pertanian 355/Kpts/-
OT.210/6/2003 dan Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 258/Kpts/OT.140/4/2004
tentang Kelengkapan Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Pertanian;
11. Keputusan Menteri Pertanian Nomor
388/Kpts/OT.160/6/2004 tentang Tim Penilai
dan Pelepas Varietas;
12. Keputusan Menteri Pertanian Nomor
363/Kpts/Kp.430/6/2001 jo Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 393/Kpts/Kp.150/6/2002
tentang Susunan Pimpinan dan Keanggotaan
Badan Benih Nasional;
Memperhatikan : Surat Badan Benih Nasional Nomor
024/BBN/IV/2006 tanggal 12 April 2006
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU : Melepas durian Bido Wonosalam sebagai varietas
unggul.
KEDUA : Deskripsi durian varietas Bido Wonosalam
seperti tercantum pada Lampiran Keputusan ini.
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 4 Mei 2006
MENTERI PERTANIAN,
ttd
ANTON APRIYANTONO
SALINAN Keputusan ini disampaikan
Kepada Yth.:
1. Menteri Koodinator Bidang Perekonomian;
2. Menteri Dalam Negeri;
3. Menteri Negara Riset dan Teknologi /Ketua BPPT;
4. Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
5. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia;
6. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional
7. Pimpinan Unit Kerja Eselon I di lingkungan Departemen
Pertanian;
8. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia;
9. Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur , BPSBTPH Propinsi Jawa
Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang;
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Jombang.
LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR : 340/Kpts/SR.120/5/2006
TANGGAL : 4 Mei 2006
DESKRIPSI DURIAN VARIETAS BIRO WONOSALAM
Asal : Desa Jarak, Kecamatan Wonosalam,
Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa
Timur.
Silsilah : Seleksi pohon induk
Golongan varietas : klon
Warna batang : kecoklatan
Bentuk batang : silindris
Warna daun bagian atas : hijau
Permukaan daun bagian atas : halus
Warna daun bagian bawah : coklat agak ungu muda
Permukaan daun bagian bawah : halus
Bentuk daun : eliptik agak panjang
Ukuran daun : panjang 10,8 – 12,5 cm, lebar 3,5 –
5,0 cm
Tepi daun : rata
Ujung daun : lancip
Panjang tangkai daun : 3,2 – 3,7 cm
Warna mahkota bunga : putih
Warna benangsari : putih kekuningan
Warna kelopak bunga : hijau muda
Bentuk bunga : bulat
Jumlah bunga per tandan : 1 – 10 bunga
Warna kulit buah masak : hijau kekuningan
Bentuk buah : bulat kerucut agak lonjong
Ukuran buah : tinggi 18,1 – 19,7 cm, diameter 15,4
– 17,8 cm
Warna daging buah : kuning
Ketebalan daging buah : 0,9 – 1,3 cm
Rasa daging buah : manis pulen, agak pahit jika terlalu
tua
Aroma buah : sedang
Kandungan gula : 15,3 %
Bentuk biji : lonjong
Warna biji : coklat muda kekuningan
Jumlah biji normal per buah : 7 – 17 biji
Ukuran biji normal : panjang 4,2 – 4,7 cm, diameter 1,9 –
2,3 cm
Jumlah biji kempes per buah : 2 – 3 biji
Ukuran biji kempes : panjang 1,1 – 1,2 cm, diameter 0,3 –
0,4 cm
Jumlah juring per buah : 4 – 6 cm
Persentase buah yang dapat
dimakan : 22,8 – 23,7 %
Ketebalan kulit buah : 0,9 – 1,0 cm
Duri buah : kerucut , tajam
Kekerasan buah : sedang
Panjang tangkai buah : 4,3 - 4,8 cm
Berat per buah : 1,8 – 2,8 kg
Jumlah buah per tandan : 1 – 2 buah
Waktu berbunga : Juli, September, Desember
Waktu panen : Nopember - Desember, Januari -
Pebruari, April – Mei.
Hasil : 80 – 190 buah/pohon/tahun
Identitas pohon induk tunggal : tanaman milik Bapak Sutopo Desa
Jarak, Kecamatan Wonosalam,
Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa
Timur dengan PIT nomor :
PI/DR.L.14/JTM/2003
Perkiraan umur pohon induk
tunggal : 25 tahun
Keterangan : beradaptasi dengan baik di dataran
rendah sampai tinggi dengan
ketinggian 300 - 950 m dpl, dalam I
tahun dapat berbuah 3 kali
Pengusul : Dinas Pertanian Propinsi Jawa
Timur, Pemerintah Daerah
Kabupaten Jombang, Dinas
Pertanian dan Ketahanan Pangan
Kabupaten Jombang,
Peneliti : Agus Pratomo, Aswadi, Tjaturina
Yuliastuti, Sutopo.
MENTERI PERTANIAN,
ttd
ANTON APRIYANTONO

Budidaya Salak pondoh wonosalam tanpa Pupuk kimia

Budidaya Salak pondoh wonosalam tanpa Pupuk kimia (menggunakan pupuk organik)
Keunggulan :
1. Buah Lebih besar
2. Rasa Lebih enak dan berair
3. lebih manis
Salak Ini bisa laku dipasaran sampai 9000/Kg. Salak ini bisa didapatkan di kelompok tani galengdowo, desa galengdowo kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang.
Untuk lebih lebih Jelas Mengenai budidaya dan Produk bisa menghubungi Personil BPP Wonosalam.(PPL Kec.Wnslm)

Rabu, 04 Agustus 2010

TEKNIK BUDIDAYA YANG BAIK DAN BENAR ( GAP = GOOD AGRICULTURAL PRACTICES ) JAMBU BOL GONDANG MANIS

TEKNIK BUDIDAYA YANG BAIK DAN BENAR
( GAP = GOOD AGRICULTURAL PRACTICES )
JAMBU BOL GONDANG MANIS

I. PENDAHULUAN
Di Kabupaten Jombang telah berkembang sentra-sentra produksi Buah-buahan, diantaranya sentra Durian di Kecamatan Wonosalam, sentra Salak di Kecamatan Diwek dan Tembelang, sentra Jeruk Nipis di Kecamatan Perak dan dan sentra Jambu Gondangmanis di Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Akan tetapi sampai saat ini pengelolaan pada sentra-sentra tersebut masih belum dilaksanakan secara optimal, sehingga produktivitas dan kualitas buahnya masih rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membangun kebun-kebun percontohan di sentra produksi Buah. Kebun-kebun percontohan tersebut dapatnya menerapkan teknologi budidaya yang baik dan benar (GAP) yaitu dengan melaksanakan teknologi budidaya maju yang didukung oleh sistim pemasaran yang efisien serta kelembagaan tani yang kuat.
Maksud daripada dilaksanakannya Norma Budidaya yang baik dan benar ini adalah untuk memberikan pedoman secara umum dalam melaksanakan budidaya tanaman buah secara benar dan tepat, sehingga diperoleh produktivitas tinggi, mutu produk yang baik, keuntungan optimum, ramah lingkungan dan usaha produksi yang berkelanjutan.


A. Penyiapan Lahan
Lahan untuk kebun Jambu Gondangmanis dapat diolah seluruhnya, namun dapat pula dipersiapkan berupa lubang tanam. Untuk menghemat biaya pengolahan tanah, penyiapan lahan dilakukan dengan membuat lubang tanam. Ukuran lubang tanam adalah 60 cm x 60 cm x 60 cm, jarak antar lubang 8 m x 8 m atau disesuaikan dengan kondisi setempat.
Pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan 15 – 30 hari sebelum tanam agar tanahnya menjadi matang dan gas – gas beracun dalam tanah menguap.. Waktu penyiapan lahan ( lubang tanam ) yang paling baik adalah pada awal musim hujan bertepatan dengan rencana penanaman. Pembuatan lubang tanam dengan cara sebagai berikut :
1) Buat garis segi empat ukuran 60 cm x 60 cm dengan letak di tengah – tengah.
2) Bersihkan bidang segi empat tadi dari rumput liar ( gulma ).
3) Gali tanah sedalam 25 cm hingga membentuk lubang dangkal berukuran 60 cm x 60 cm x 25cm, lalu tanah galian diangkat ke sisi lubang yang terkena sinar matahari pagi.
4) Perdalam lubang tadi hingga ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm, lalu tanah galiannya diangkat ke sisi lubang yang kena sinar matahari sore.
5) Kering anginkan lubang dan tanah galian tersebut selama 15 – 30 hari.
6) Masukkan kembali tanah galian lapisan bawah ke tempat asal ( dasar lubang ).
7) Campurkan tanah galian lapisan atas dengan pupuk kandang sebanyak 20 – 40 kg / lubang, lalu masukkan kembali ke lubang / tempat asal.

B. Penyiapan Bibit ( Jambu Gondang manis )
Bibit yang digunakan harus bibit yang baik dan bermutu. Bibit yang baik ditandai dengan pertumbuhan yang sehat, sudah cukup umur tanaman dan sebaiknya bersertifikat. Sebelum ditanam, bibit harus diadaptasikan dulu ke lokasi kebun. Selama periode adaptasi tersebut, bibit dipelihara intensif dan diawasi dari kemungkinan serangan hama atau penyakit.

C. Penanaman
Tata cara tanam bibit Jambu meliputi kegiatan pokok sbb :
1. Gali lubang tanam dengan cangkul. Ukuran lubang 30 cm x 30 cm atau disesuaikan dengan ukuran bidang perakaran bibit Jambu Gondangmanis. Sebarkan insektisida Furadan 3 G sebanyak 100 gr tiap lubang tanam secara merata.
2. Taburkan pupuk dasar berupa campuran Urea + TSP + KCL ( 2 : 1 : 1 ) sebanyak 100 – 150 gr tiap lubang tanam.
3. Siram media semai dalam polybag yang berisi bibit Jambu Gondangmanis hingga cukup basah.
4. Sobek atau gunting polybag, lalu keluarkan bibit dengan hati hati bersama media semai dan akar – akarnya.
5. Tanam bibit Jambu Gondangmanis tepat di tengah – tengah lubang tanam.
6. Timbun akar dan pangkal batang bibit dengan tanah sambil dipadatkan pelan – pelan.
7. Siram tanah di sekeliling pangkal batang dan perakaran bibit hingga cukup basah ( lembab ) terutama bila tidak hujan.
8. Pasang tiang penyangga di sisi kiri dan kanan bibit tanaman Jambu Gondangmanis, lalu ikat erat – erat agar tanaman tidak mudah roboh.

D. Pemeliharaan Tanaman
1. Penyulaman
Bibit yang mati atau tumbuhnya abnormal harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, lalu diganti dengan bibit baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu panas dan sinar matahari tidak terlalu terik. Seusai menyulam segera dilakukan penyiraman tanah di sekeliling pangkal bibit tanaman Jambu Gondangmanis sulaman.

2. Pengairan
Pengairan harus dilakukan kontinyu sehari 1 – 2 kali, terutama pada musim kemarau. Pada tanaman yang cukup besar dan perakarannya dalam pengairan dikurangi menjadi 15 – 30 hari sekali, tergantung pada keadaan tanah dan musim.
Cara pengairan adalah dengan menyiram atau mengalirkan air disekeliling tajuk tanaman hingga tanahnya cukup basah. Alat bantu penyiraman dapat berupa ember ( gembor ) atau slang plastik. Waktu pengairan sebaiknya pada pagi atau sore hari.

3. Pemulsaan
Untuk mencegah penguapan air dan menekan pertumbuhan gulma dapat dilakukan pemulsaan atau penutupan tanah dengan jerami kering. Waktu pemulsaan yang paling baik adalah segera setelah tanam.
Cara memasang mulsa adalah dengan menghamparkan jerami kering setebal 3 cm – 5 cm secara merata disekeliling tajuk tanaman menutupi permukaan tanah.

4. Pemupukan
Pedoman Pemupukan Tanaman Jambu Gondangmanis


Cara pemupukan dapat memilih alternatif sbb :
a. Dimasukkan kedalam lubang tugal sedalam
10 cm – 15 cm disekeliling kanopi ( tajuk )
tanaman.
b. Disebar merata dalam larikan secara merata sedalam 10 cm - 25 cm disekeliling tajuk tanaman.

5. Pemangkasan dan Pembentukan Pohon
Pemangkasan pertama dilakukan pada tanaman Jambu Gondangmanis yang berumur kurang dari satu tahun. Cara pemangkasan pertama adalah dengan memotong ujung batang pada ketinggian 70 cm – 100 cm dari permukaan tanah. Tujuan pemangkasan pertama adalah merangsang pertumbuhan tunas – tunas baru bakal cabang primer dan membentuk batang pokok yang pendek
( dwarfing ).
Pemangkasan kedua bertujuan menumbuhkan tunas – tunas baru sebagai calon cabang sekunder. Cara pemangkasan pada tahap ini adalah dengan memotong ( membuang ) ujung cabang primer untuk disisakan sepanjang 30 cm. Tunas yang tumbuh dari cabang primer disebut tunas sekunder. Kemudian dipelihara 3 cabang sekunder terbaik.
Pemangkasan ketiga dilakukan pada cabang sekunder. Caranya, tiap ujung cabang sekunder dipangkas untuk disisakan 30 cm – 50 cm.
Dari cabang sekunder ini akan tumbuh tunas – tunas baru calon cabang tersier. Pelihara tiga cabang tersier terbaik pada tiga cabang sekunder. Setelah dihasilkan cabang – cabang tersier, maka pemangkasan dan pembentukan pohon dihentikan. Pohon Jambu Gondangmanis yang bentuk mahkotanya bagus dan pendek ( dwarfing ) selain indah dipandang, juga jarak tanam dapat dipersempit sehingga pemeliharaan tanaman atau pemanenan mudah dilakukan.
Pemangkasan berikutnya hanya dilakukan pada ranting, cabang atau daun yang kering, mati atau diserang hama penyakit.

6. Perlindungan Tanaman
Perlindungan tanaman Jambu Gondangmanis ditujukan terhadap kemungkinan gangguan hama dan penyakit. Perlindungan tanaman yang dianjurkan adalah mempraktekkan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.
Jenis hama yang sering menyerang Jambu Gondangmanis al : Ulat parasa / ulat braja, Ulat trabala, Lalat megatriosa, Lalat Bisul. Sedangkan jenis penyakit yang banyak menyerang adalah : Antraknosa, Bercak daun, Kapang jelaga, Karat merah.
Prinsip pengendalian hama dan penyakit secara terpadu adalah memadukan berbagai teknik pengendalian ( fisik, mekanik, biologik, kultur teknik dan kimiawi ) yang serasi, sehingga memberikan manfaat sosial ekonomi yang sebesar – besarnya bagi petani. Komponen pengendalian hama dan penyakit yang dapat dipadukan dalam upaya perlindungan tanaman Jambu Gondangmanis adalah sbb :
a. Pengendalian secara fisik adalah pengumpulan larva hama, pemangkasan bagian tanaman yang terserang hama atau penyakit, pemberaan lahan dll.
b. Pengendalian secara kultur teknik adalah sanitasi kebun, penggunaan bibit yang sehat, pengaturan jarak tanam, perbaikan drainase tanah, pemupukan berimbang, pengapuran, penggunakan tanaman perangkap dll.
c. Pengendalian secara biologik ( hayati ) adalah pelestarian dan pemanfaatan musuh – musuh alami berupa predator, parasitoid dan patogen penyakit.
d. Pengendalian secara kimiawi adalah pengendalian menggunakan pestisida selektif dan bahan kimia lainnya.

7. Pembungkusan Buah
Tata cara pembungkusan buah Jambu Gondangmanis adalah sbb :
a. Siapkan alat dan bahan terdiri atas : Pisau, Tali dan Ijuk. Tiap pohon Jambu Gondang manis membutuhkan ijuk sebanyak ± 15 Kg.
b. Tentukan dompolan buah Jambu Gondangmanis yang akan dibungkus.
c. Balutkan ijuk sejajar dengan permukaan dompolan buah Jambu Gondangmanis, sehingga seluruh buah tertutup.
d. Ikat kedua ujung ijuk hingga sungguh – sungguh kuat.
e. Lakukan pembungkusan pada dompolan buah yang lain.

8. Pemungutan Hasil ( P a n e n )
Ciri – ciri buah Jambu Gondangmanis yang layak dipanen adalah :
- Buah berukuran maksimal
- Umur buah telah mencapai 80 hari dari pembungaan
- Warna kulit buah telah berubah dari hijau menjadi merah merata / merah kenguan
- Bila buah dipegang terasa empuk dan beraroma harum.

Selasa, 27 Juli 2010

PEMANFAATAN BAHAN ORGANIK DI KECAMATAN WONOSALAM


Dengan banyak sisa bahan hasil pertanian diharapkan oleh petani untuk dimanfaatkan sebagai bahan penambah nutrisi bagi tanaman,dilakukan dengan pengembalian kelahan dengan penambahan bahan dekomposer yang mana dapat sebagai pengendalian akan kekurangan bahan organik yang terkandung ditanah.diman para petani khusus petani cengkeh mulai melakukan pembiaran daun yang jatuh disekitarnya untuk tidak diambil dan dijual karena dapat mengurangi terjadinya serangan penyakit jamur akar putih.

PEMBUATAN BOKASHI DESA SUMBEREJO


Pembuatan bokashidi desa Sumberejo dilaksanakan pada awal Musim penghujan, tepatnya di Dusun Sumberejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam.
Dengan di dampingi Petugas Lapangan dari Kecamatan Wonosalam

PEMBUATAN BOKASHI DESA SUMBEREJO

Senin, 05 Juli 2010

Durian Unggul Wonosalam







Salah satu keunggulan dari Kecamatan Wonosalam adalah terdapatnya jenis Durian Unggul, Salah satunya adalah jenis Varietas Bido yang awal mulanya ditemukan di Desa jarak Kecamatan Wonosalam.
Jenis Ini mempunyai daging tebal, kulit tipis dan rasanya yang Khas..